neT-Tor.com

Saturday, 26 December 2015

Tugas Kelas DDP


LIHAT JUGA PROGRAM SEDERHANA KALKULATOR = DISINI  

1.  Contoh program sederhana (1)

#include <iostream>
using namespace std;
           
class proses {
            int x, y;
            public:
            void nilai (int,int);
            int proc (void) {return (x*y);}
            };
            void proses::nilai (int a, int b) {
                        x=a;
                        y=b;
}         
int main (int argc, char** argv) {
            proses hasil;
            int c,d;
            cout<<"Masukan X :"; cin>>c;
            cout<<"Masukan Y :"; cin>>d;
            hasil.nilai (c,d);
            cout << "Hasil: " << hasil.proc();
           
            return 0;
}

Penjelasan progam 1 :

          Disitu ada 2 label di dalam class proses yaitu Data x dan y Di dalam public ada dua fungsi yaitu nilai dan proc. Fungsi nilai di jabarkan di lluar class jadi harus menggunakan tanda scope ::. Fungsi proc dideklarasikan di dalam class jadi tidak menggunakan tanda scope ::.

Modif sedikit, agar bisa masukan nilai lewat keyboard.
Jadi saya kasih ngomong-ngomong sdikit.


       2. Contoh Program sederhana (2)

            #include <iostream>
            using namespace std;
           
           class proses {
               int x, y;
           public:
               void nilai (int,int);
               int proc (void) {return (x*y);}
            };
            void proses::nilai (int a, int b) {
                        cout<<"Masukan X :"; cin>>x;
                        cout<<"Masukan Y :"; cin>>y;
            }         
            int main (int argc, char** argv) {
                   proses hasil1, hasil2;
                   hasil1.nilai (0,0);
                   hasil2.nilai (0,0);
                     cout << "Hasil 1 : " << hasil1.proc()<<endl;
                     cout << "Hasil 2 : " << hasil2.proc()<<endl;
            return 0;
            }         

      Penjelasan progam 2 :

         Sama dengan program 1 hanya  bedanya disitu di tambahkan satu objek lagi dan tentunya outputnya juga. prosesnya juga sama dengan progam satu.



      3. Contoh program sederhana(3)


   - PROGRAM 3
      Modifikasi 1—4  

#include <iostream>
using namespace std;
           
            class p_panjang {
private:
            int p,l;
public:
            int luas() {return (p*l);}
            void beri_nilai (int p1, int l1)
            {p=p1; l=l1;}
};
main() {
p_panjang a,b;
int x,y,c,d;
cout<<"Panjang 1:";cin>>x;
cout<<"Luas    1:";cin>>y;
cout<<"Panjang 2:";cin>>c;
cout<<"Luas    2:";cin>>d;

a.beri_nilai(x,y);
b.beri_nilai(c,d);
cout<<"\nLuas a:"<<a.luas();
cout<<"\nLuas b:"<<b.luas();
            return 0;
}



Yang ini,
-. Program 3 sudah di modif sdikit
   Nama : PROGRAM MENGETAHUI JUMLAH YANG HARUS DI BAYA.

#include <iostream>
using namespace std;
           
            class ini {
private:
            int l,p;
           
public:
            int proses(){return (p*l);}
            void proc (int p1, int l1)
            {p=p1; l=l1;}
};
main() {
            ini a;
            int x,y;
            string c;
                        cout<<"Masukan Nama         : ";cin>>c;
                        cout<<"Masukan Jumlah beli  : ";cin>>x;
                        cout<<"Harga Barang         : Rp ";cin>>y;    
                        cout<<"=========================="<<endl;
                       
            a.proc(x,y);
                        cout<<"Nama                 : "<<c<<endl;
                        cout<<"Total Di Beli        : Rp "<<a.proses()<<endl;
                        cout<<endl<<endl;
                        system("pause");

            return 0;
}



Monday, 12 October 2015

PROGRAM SEDERHANA C++ (DEV C++)

     

PROGRAM SEDERHANA C++ (DEV C++)

Assalamualaikum wr.wb
Oke kali ini saya akan POSTING tentang Pemprogaman, tepatnya menggunakan dev c++,,
yahh berati pake bahasa C , C++ dong??, Ya iyalah Mosok pake bahsa Java kan Kagak mungkin :D,,
sedikit becanda Biar gak stress :D hheheh :3

Pernah ada yang tanya ke saya kaya gini ;
Apa sih bedanya bahasa C sama bahasa C++ ????

:D simpelll aja aku jawab kalo bahasa C itu gak ada ++ nya :v
hahaha kayagiyu kira-kira, Karena waktu itu saya belum tau :D punya laptop aja gak :( mau di instal dimana aplikasinya nanti haha :D
..
kalo boleh tak jawab sekarang, ini yangku tahu;
ada 2 yang saya biasa gunakan yaitu ..
output dan input

Bahasa C   ;
-printf (output)
-scanf (input)
Bahasa C++ ;
-cout (output)
-cin (input)

    Itu ajalah, sebenarnya masih ada beberapa perbedaan lagi,,
yaudahlah basa-basinya ya :D malah ke lamaan ni :3
Sedikit pengetahuan ajalah yang di atas..

oke lanjut ke TKP


1. Menggunakan bahasa C++

Nama Program : Kalkulator Sederhana dengan Sub menu
Pembuat : Eko Prasetio
Keperluan : Tugas DDP
Download        : LINK
SS :




#include <iostream>
#include <conio.h>
#include <stdlib.h>

using namespace std;

int main(int argc, char** argv){
int nomer,nilai;
float a,b,jum;

do {
system("cls"); //membersihkan layar (clear screen)

cout<<"\n========SUB MENU PERHITUNGAN======== \n"<<endl;
cout<<"1.Menghitung PENJUMLAHAN"<<endl;
cout<<"2.Menghitung PENGURANGAN"<<endl;
cout<<"3.Menghitung PERKALIAN"<<endl;
cout<<"4.Menghitung PEMBAGIAN"<<endl;
cout<<"5.KELUAR "<<endl;
cout<<"===================================="<<endl;
cout<<"PILIH MENU : "; cin>>nomer;

system("cls"); //membersihkan layar (clear screen)

if ( nomer ==1) {
cout<<"Masukan Nilai_nya  :";
cin>>a;
cout<<"Masukan Nilai_nya  :";
cin>>b;
cout<<"----------------------- +"<<endl;
jum=a+b;
cout<<"HASIL Penjumlahan  :"<<jum<<endl;

getch();
}

if ( nomer ==2) {
cout<<"Masukan Nilai_nya  :";
cin>>a;
cout<<"Masukan Nilai_nya  :";
cin>>b;
cout<<"----------------------- -"<<endl;
jum=a-b;
cout<<"HASIL Pengurangan  :"<<jum<<endl;

getch();
}

if ( nomer ==3) {
cout<<"Masukan Nilai_nya  :";
cin>>a;
cout<<"Masukan Nilai_nya  :";
cin>>b;
cout<<"----------------------- x"<<endl;
jum=a*b;
cout<<"HASIL Perkalian    :"<<jum<<endl;
 
   getch();
   }
 
        if ( nomer ==4) {
cout<<"Masukan Nilai_nya  :";
cin>>a;
cout<<"Masukan Nilai_nya  :";
cin>>b;
cout<<"----------------------- /"<<endl;
jum=a/b;
cout<<"HASIL Pembagian    :"<<jum<<endl;

getch();
}

} while ( nomer !=5);
return 0;
}




2. Menggunakan bahasa C++ juga

Nama Program : Kalkulator simpel
Pembuat : Eko Prasetio
Keperluan : Tugas DDP
Download        :  LINK
SS                    :





#include <iostream>

using namespace std;
int main(int argc, char *argv[]) {
int a,b,jum;

cout<<"Masukan Nilai   :"; cin>>a;
cout<<"Masukan Nilai   :"; cin>>b;
cout<<"------------------- +"<<endl;

jum=a+b;
cout<<"Hasil           :"<<jum;

return 0;
}



     Sudah segitu saja bisa kembangin lagi sendiri

Catatan; JANGAN HANYA COPY PASTE SAJA TAPI DI PAHAMI MAKSUD DAN TUJUAN PERINTAH TERSEBUT OKEE :D

Sekian dari saya apabila ada salah kata,penulisan,dll saya minta duitt ,, eh salah minta maaf maksudnya :D
karena saya belum bisa berbahsa sesuai KBBI maklumlah :D

Wassalamualaikum wr,wb

Sunday, 13 September 2015

Kelebihan Dan Kekurangan Windows 7 32-bit(x86) dan 64-bit (x64).

        Ketika akan mendownload OS misalnya saja windows 7, kita biasanya dihadapkan oleh dua pilihan yaitu windows 7 32-bit(x86) dan windows 7 64-bit (x64).

Sebelum mendownloadnya pasti banyak yang bertanya-
tanya, apa itu 32bit dan 64bit??
Lalu mana yang harus dipilih yang 32-bit atau 64-bit?? Selain itu apa bedanya antara 32-bit dan 64-bit??

      Sebelum mendownload dan menginstallnya di pc atau
laptop, ada baiknya kita mengetahui apa itu Windows 32-bitdan 64-bit juga kelebihan dan kelemahan keduanya.
       Arsitektur 32-bit dan 64-bit mengacu pada arsiektur
processor. Processor 32 bit artinya registernya (unit
penyimpanan data terkecil di dalamnya) berukuran 32-bit. Processor 64-bit artinya register-registernya berukuran 64-bit.
     Pada processor, jumlah bit menyatakan panjang atau jumlah data yang langsung dapat diproses dalam satu langkah. Seperti CPU 32-bit, artinya processor dapat memproses sebuah instruksi sepanjang 32 bit dalam satu clock cycle. Jadi 64-bit processor adalah CPU yang mampu memiliki kapasitas mengolah instruksi sepanjang 64-bit dalam satu clock cycle.
Selain hal tersebut, Windows dengan arsitektur 32 bit memiliki batasan penggunaan RAM sebesar 4GB selebihnya RAM yang dipasang lebih dari 4GB pada Windows 32-bit tidak ada gunanya, misalnya, PC/Laptop terpasang RAM sebesar 5GB, maka yang terbaca di hanya 4GB saja.

Apa Keuntungan menggunakan Windows 64 bit?

Jika sering melakukan pekerjaan yang berat dan memakan memori yang banyak (misalkan editing video dan Programer) maka Windows 64-bit lebih tepat digunakan karena akan memberikan kinerja yang lebih baik daripada Windows 32-bit. Ini disebabkan Windows 64-bit mensupport memori hingga 192GB, sedangkan Windows 32-bit hanya mensupport memori hingga 4GB. Keuntungan lain dari Windows 7 64-bit adalah dari segi keamanan, lebih aman dibandingkan Windows 7 32-bit, karena driver Windows 7 64-bit harus benar-benar tersertifikasi oleh vendor si pembuat
hardware, jadi sangat sulit untuk disusupi oleh program jahat.

Apakah Laptop atau komputer saya bisa menjalankan Windows 7 64-bit?

Jika kita baru membeli sebuah komputer dengan teknologi terbaru dan terkini pada umumnya telah support dan mampu menjalankan Windows 64-bit, Kecuali jika prosesor yang anda gunakan merupakan prosesor yang lowend misal Laptop dengan Prosesor Intel Atom atau Intel Core Duo ke bawah.
     Namun jika anda menggunakan prosesor sekelas Intel Core 2 Duo maka bisa dipastikan bahwa komputer anda mampu dan bisa menjalankan Windows versi 64-bit.
    Jika anda masih ragu-ragu ada baiknya guna program Prosesor Identifikasi dari Intel untuk mengetahui apakah prosesor anda telah suppport Windows 7 64-bit atau tidak.
    Jadi, ketika ingin menginstall Windows antara Windows 32-bit dan Windows 64-bit, disesuaikan dengan kebutuhan saja. Jika ingin melakukan pekerjaan yang berat dan memakan memori yang banyak, Windows 64-bit merupakan pilihan yang tepat, tetapi jika hanya digunakan untuk kebutuhan biasa sehari-hari, misalnya untuk browsing,mengetik, dan bermain game ringan, Windows 32-bit merupakan pilihan yang tepat.

#Catatan
Pilih Sesua Kebutuhan

Sekian dari Net-tor.Bg.com

Thursday, 27 August 2015

Biografi Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur)


Biografi Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mantan Presiden Keempat Indonesia ini lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau "Sang Penakluk", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren. Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada 1949. Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Akhir 1949, dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Dia belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Pada April 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Pendidikannya berlanjut pada 1954 di Sekolah Menengah Pertama dan tidak naik kelas, tetapi bukan karena persoalan intelektual. Ibunya lalu mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan. Pada 1957, setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).

Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya. Pada 1963, Wahid menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya. Gus Dur lalu belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970.

Dia pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui di sini. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971. Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES mendirikan majalah Prisma di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utamanya dan sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Saat inilah dia memprihatinkan kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Dia kemudian batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren. Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk Tempo dan Kompas. Artikelnya diterima baik dan mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial.

Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, sehingga dia harus pulang-pergi Jakarta dan Jombang. Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam. Pada 1977, dia bergabung di Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, dengan mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi. Ia lalu diminta berperan aktif menjalankan NU dan ditolaknya. Namun, Gus Dur akhirnya menerima setelah kakeknya, Bisri Syansuri, membujuknya. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih pindah dari Jombang ke Jakarta.

Abdurrahman Wahid mendapat pengalaman politik pertamanya pada pemilihan umum legislatif 1982, saat berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), gabungan empat partai Islam termasuk NU.


Reformasi NU
NU membentuk Tim Tujuh (termasuk Gus Dur) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Pada 2 Mei 1982, para pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan memintanya mengundurkan diri. Namun, pada 6 Mei 1982, Gus Dur menyebut pilihan Idham untuk mundur tidak konstitusionil. Gus Dur mengimbau Idham tidak mundur. Pada 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan keempat oleh MPR dan mulai mengambil langkah menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara. Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Gus Dur menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu ini.

Gus Dur lalu menyimpulkan NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, dia mengundurkan diri dari PPP dan partai politik agar NU fokus pada masalah sosial. Pada Musyawarah Nasional NU 1984, Gus Dur dinominasikan sebagai ketua PBNU dan dia menerimanya dengan syarat mendapat wewenang penuh untuk memilih pengurus yang akan bekerja di bawahnya.

Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai pemerintah. Pada 1987, dia mempertahankan dukungan kepada rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar. Ia menjadi anggota MPR dari Golkar. Meskipun disukai rezim, Gus Dur acap mengkritik pemerintah, diantaranya proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai Bank Dunia. Ini merenggangkan hubungannya dengan pemerintah dan Suharto.

Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga menandingi sekolah sekular. Gus Dur terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua PBNU pada Musyawarah Nasional 1989. Saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan ABRI, berusaha menarik simpati Muslim.

Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk untuk menarik hati intelektual muslim di bawah dukungan Soeharto dan diketuai BJ Habibie. Pada 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung, tapi ditolaknya karena dianggap sektarian dan hanya membuat Soeharto kian kuat. Bahkan pada 1991, Gus Dur melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial. Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan merencanakan acara itu dihadiri paling sedikit satu juta anggota NU.

Soeharto menghalangi acara tersebut dengan memerintahkan polisi mengusir bus berisi anggota NU begitu tiba di Jakarta. Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran. Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan diri untuk masa jabatan ketiga. Kali ini Soeharto menentangnya. Para pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko, berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur.

Ketika musyawarah
nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat ABRI, selain usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU priode berikutnya. Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati yang popularitasnya tinggi berencana tetap menekan Soeharto. Gus Dur menasehati Megawati untuk berhati-hati, tapi Megawati mengacuhkannya sampai dia harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markasnya diambilalih pendukung Ketua PDI dukungan pemerintah, Soerjadi.

Pada November 1996, Gus Dur dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU. Desember tahun itu juga dia bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Juli 1997 merupakan awal krisis moneter dimana Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi itu. Gus Dur didorong melakukan gerakan reformasi dengan Megawati dan Amien, namun terkena stroke pada Januari 1998. Pada 19 Mei 1998, Gus Dur, bersama delapan pemimpin komunitas Muslim, dipanggil Soeharto yang memberikan konsep Komite Reformasi usulannya. Gus Dur dan delapan orang itu menolak bergabung dengan Komite Reformasi.

Amien, yang merupakan oposisi Soeharto paling kritis saat itu, tidak menyukai pandangan moderat Gus Dur terhadap Soeharto. Namun, Soeharto kemudian mundur pada 21 Mei 1998. Wakil Presiden Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto. Salah satu dampak jatuhnya Soeharto adalah lahirnya partai politik baru, dan pada Juni 1998, komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru. Baru pada Juli 1998 Gus Dur menanggapi ide itu karena mendirikan partai politik adalah satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Partai itu adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada 7 Februari 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat presidennya.


Pemilu April 1999, PKB memenangkan 12% suara dengan PDIP memenangkan 33% suara. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara. Semasa pemerintahannya, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial serta menjadi pemimpin pertama yang memberikan Aceh referendum untuk menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti di Timor Timur. Pada 30 Desember 1999, Gus Dur mengunjungi Jayapura dan berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.

Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai bernegosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM. Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut. Ia juga berusaha membuka hubungan diplomatik dengan Israel, sementara dia juga menjadi tokoh pertama yang mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik. Muncul dua skandal pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate, yang kemudian menjatuhkannya.

Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Pada 23 Juli 2001, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri. Pada Pemilu April 2004, PKB memperoleh 10.6% suara dan memilih Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis dan KPU menolak memasukannya sebagai kandidat. Gus Dur lalu mendukung Solahuddin yang merupakan pasangan Wiranto. Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam pemilu. Di Pilpres putaran dua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-Muzadi, Gus Dur golput.

Agustus 2005, Gus Dur, dalam Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu bersama Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama dalam soal pencabutan subsidi BBM.

Kehidupan pribadi
Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zanubba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Yenny aktif berpolitik di PKB dan saat ini adalah Direktur The Wahid Institute.

Gus Dur wafat, hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkosumo, Jakarta, pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit, diantarnya jantung dan gangguan ginjal yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat dia harus menjalani cuci darah rutin. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Surabaya usai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.

Penghargaan Gusdur
Pada 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan cukup prestisius untuk kategori kepemimpinan sosial. Dia ditahbiskan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, pada 10 Maret 2004. Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.

Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli persoalan HAM. Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas. Dia juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple dan namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.

Gus Dur memperoleh banyak gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lebaga pendidikan, yaitu:
  • Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003)
  • Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003)
  • Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003)
  • Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002)
  • Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000)
  • Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)
  • Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000)
  • Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000)
  • Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000)
  • Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000)